Tiga hari dua malam perjalanan darat menuju Tanah Harapan
KTT
Kabupaten Tana Tidung (KTT) adalah
wilayah pecahan dari Kabupaten Bulungan. Sejak tahun 2012 Kabupaten Bulungan
dan Kabupaten Tana Tidung bergabung menjadi Provinsi Kalimanatan Utara. Ide untuk
melakukan perjalanan darat ke Kabupten ini muncul karena dari cerita beberapa
orang yang telah melakukan perjalanan ke sana bahwa prasarana jalan darat sudah
cukup baik. Walaupun belum begitu terinci tetang seluk beluknya seperti jarak
antar kota, persediaan penjualan bbm, rumah makan dan penginapannya.
Perjalanan 3 etape
Perjalanan dilakukan di bulan September 2014. Cuaca
adalah musim panas dengan hujan yang jarang. Saya ditemani isteri sebagi co driver dengan tujuan Kecamatan
Sesayap Ilir Kabupaten Tanah Tidung, keperluan menemui anak dan cucu sekaligus
liburan. Kendaraan Honda CR-V metik tahun 2003 warna grey metalik 2000cc dengan
kapasitas tangki bensin 55 liter. Perjalanan sebulumnya dengan tujuan sama
tahun 2011 dilakukan dengan pesawat terbang dimulai dari Tenggarong ke
Balikpapan menyewa mobil Rp 400 ribu selama 4 jam, pesawat Lion Air Balikpapan
tujuan Tarakan Rp 350 ribu selama 1 jam, dilanjutkan dengan speed boat ke Sesayap Ilir Rp 100 ribu
selama 1 jam 45 menit.
Perjalanan
lewat darat dilakukan bukan untuk berhemat, melainkan untuk menambah wawasan
melihat kabupaten dan kota lain di Kaltim dan Kaltara.
ETAPE I
Minggu 21 September 2014, berangkat dari Tenggarong jam 8
pagi, dengan bensin full. 45 menit sudah memasuki kota Samarinda sejauh 34 km.
Kota pagi itu cukup padat merayap, melalui pasar dan pertokoan. Sempat bingung cari
jalan dimana keluar kotanya menuju ke arah utara. Setelah setengah jam baru
temu jalan keluar kota. Tapi dari hasil bertanya kepada beberapa kawan hari
sebelumnya, akhirnya sampai juga ke utara kota dan temulah plang petunjuk ke
arah Muara Badak, Bontang dan Sangata. Jalan kedaannya cukup baik, walaupun
disana-sini terdapat lubang dan sebagian jalan yang longsor. Lebar jalan aspal
sekitar 6 meter dengan tanjakan dan turunan serta belokan ke kanan dan ke kiri
kadang cukup tajam. Jarak Samarinda Bontang sekitar 110 km. Sampai di Bontang
tepat pukul 11.30 siang istirahat dan makan siang. Jam 12 siang melanjutkan
perjalanan ke arah Sangata dan tiba pada jam 13.30. Jarak yang ditempuh sudah
mencapai 204 km dihitung sejak dari Tenggarong. Kami putuskan untuk istirahat
dan mencari penginapan sambil putar-putar dikota Sangata untuk pertama kalinya
kami datang ke kota ini. Harga penginaan dari 80 ribu sampai 120 ribu masing-masing
untuk yang kipas angin atau ac. Kamar mandi dan WC di dalam dan ada tv kabel.
Sore itu kami sempat keliling kota dan mengisi bensin sampai full lagi meski sedikit
kesal karena banyaknya pengetap dan mobil pribadi yang main serobot antrian.
Biaya makan sama dengan di Tenggarong atau Samarinda pada warung-warung yang
begitu banyak diselang seling penginapan dan hotel melati yang juga menjamur,
maklum kota para pekerja dan pns. Jalan dalam kota cukup bagus, jembatan juga
permanen yang menyeberangi sungai Sangata dan di komplek perkantoran dan
komplek perusahaan jalannya, ya ampun lebarnya dan lurusnya. Seperti jalan tol
Jagorawi.
ETAPE II
Senin 22 September 2014, pagi jam 6 kami telah siap untuk
berangkat setelah sarapan teh hangat dan kue gratis dari penginapan. Rencana
makan pagi di luar kota saja sambil nunggu warung buka diarah tujuan ke Muara
Wahau dan Tanjung Redeb ibukota Kabuaten Berau. Pada jalan-jalan sore
kemarinnya kami telah tahu jalan ke arah tersebut melihat banyaknya petunjuk
jalan karena setiap belok ke kiri disepanjang jalan menuju ke Bukit Pelangi, pusat
pemerintahan dan perkantoran swasta tersebut kalau tak salah ada tiga belokan
ke kiri yang ada petunjuk jalannya berwarna hijau cukup besar arah ke Muara Wahau
dan Tanjung Redeb serta sekalian juga ke arah Sangkulirang. Setelah satu jam
kami sampai di simpang tiga Muara Wahau dan Sangkulirang. Menurut petunjuk
jalan warna hijau yang telah cukup kusam, bila belok kiri ke Muara Wahau, bila
ke kanan arah ke Sangkulirang. Ini sebuah kampung yang cukup ramai, saya tak
tahu nama kampungnya. Di kiri simpang tiga ada pom bensin dan banyak mobil yang
antri tapi belum buka.
Kami belok kiri dan terus tancap gas. Namun makin lama
jalan makin rusak dan sempit, seperti jarang dilalui oleh kendaraan. Dan setelah
sekira jarak 5 km dari simpang tiga, jalan ditutup sama sekali dengan gundukan
tanah uruk setinggi 3 meter. Dengan bingung dan isterisya ketakutan sekali,
saya memutar mobil dan tancap gas lagi. Banyak rumah kosong dan beberapa dengan
tulisan sebagai rumah makan yang sepertinya tak terawat lagi. Setelah sampai di
pertigaan dan bertanya kepada penduduk, dijelaskan bahwa itu jalan tak dipakai
lagi karena telah masuk wilayah tambang batu bara dan jalan dibuat yang baru
dengan jurusan ke arah Sangkulrang kemudian belok kiri setelah sekitar 150
meter dari pertigaan. Owalah, kenapa plangnya tak di baiki dan itu petunjuk bahwa
perusahaan batu bara lebih mendapat atensi dari pemda Kutai Timur dari pada
kepentingan masyarakat umum.
Akhirya kami putuskan untuk makan pagi di warung dan
kemudian baru melanjutkan perjalanan setelah istirahat sekitar setengah jam dan
memang ada plang petunjuk ke arah Muara Wahau. Jalan yang dibangun perusahaan
ini lumayan lebar dengan aspal nomor satu dan sangat nyaman dilalui. Tapi
setelah sekitar 10 km kembali ke jalan PU yang cukup kecil dengan aspal yang
tipis. Di sekitar 50 km sampai mendekati kota Kcematan Muara Wahau, jalan ada
yang diseminisasi, ada yang aspal, ada pula yang baru dari batu halus. Ada pula
yang baru disemen sebelah, sehingga kendaraan harus bergantian melewatinya.
Kemungkinan sekarang jalan ini telah selesai pengerjaan semenisasi atau pun
pengaspalannya. Sepanjang jalan banyak mobil penganku kelapa sawit dan minyak
sawit serta sepeda motor dan mobil pik up para pedagang. Warung dan rumah makan
sederhana juga ada di beberapa kampung kecil sepenjang jalan. Jam 12.30 siang
kami sampai di Muawa Wahau.
Makan siang di sebuah rumah makan yang juga membuka
penginapan di pertigaan Sangata, Muara Wahau dan Berau. Sambil menunggu
hidangan, saya coba cari informasi berapa jam perjalanan mobil ke Tanjung Redeb
dan bagaimana kondisi jalannya. Tapi rupanya pemilik rumah makan kurang
bersahabat dan menjawab agak kurang ramah bahwa perjalanan ke Tj Redeb memakan
waktu 10 jam. Selesai makam kami membayar Rp 50 ribu untuk dua porsi nasi
campur ditambah dua gelas teh hangat. Ketika akan berangkat dimana kami
putuskan akan mengnap di kota kecamatan, tba-tiba sanganak pemilik rumah makan
bertanya kami akan kemana. Kami jawab kan ke utara yaitu Tanah Tidung. Katanya
dari sini ke Tj Redeb memerlukan waktu sekitar 5-6 jam saja dan keadaan jalan
sudah sangat memadai menurut ukuran warga disini. Dia melihat mobil kami, dan
mengatakan bahwa kalau mobil kami tak menemui kesulitan kalau menuju Berau. Karena
dia baru saja melakukan perjalanan pp Wahau-Berau beberapa bulan yang lalu.
Akhirnya dari informasi ini kami putuskan meneruskan perjalanan.
Kedaan jalan mulanya aspal mulus dengan lebar sekitar 6
meter, dengan lalu lontas yang lengang. Disini kami memlaui kecamatan Gunung
Kombeng, kecamatan terakhir di Kab. Berau. Hanya seskali berpapasan dengan
sepeda motor dan truk pengangkut kelapa sawit dan minak sawit. Setelah satu jam
perjalanan, jalan mulai agak rusak, kemudian jalan hanya berbatu agak kasar.
Debu juga sangat tebal kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Setelah itu
jalan terdiri dari beton semen dan putus-putus sehingga kalau berpapasan dengan
truk harus antri. Kemudian yang dilalui tinggal hanya jalanan berbatu dengan
hutan yang sangat lebat. Pada jam sekitar 15 siang kami sampai pada jalan yang
sudah diaspal mulus tetapi topografinya turun naik dan berbelok-belok sangat
tajam. Hutannya sangat lebat sehingga isteri saya sangat ngeri membayangkan kalau
terjadi apa-apa, misalnya mobil mogok, sehingga ia berdoa sepanjang jalan.
Tidak ada plang tanda batas kabupaten, kami memasuki
Kecamatan Kelay, kabupaten Berau. Dua jam kemudian petunjuk bensin kami sisa
sekitar 10 liter. Kami berhenti sebentar menanyakan berapa jarak lagi sampai ke
kota Tanjung Redeb. Info dari warga bahwa 40 km lagi sudah sampai di Tanjung
Redeb. Kami membeli bensin eceran 10 liter seharga Rp 110 ribu. Akhirnya kami sampai
di ibukata Kabupaten Berau ini pada pukul 18 sore setelah menempuh jarak Muara
Wahau-Tj Redeb 213 km.
ETAPE III
Selasa 23 Sept 2014 pagi jam 6 kami telah cek out dari
hotel setelah membayar Rp 220 ribu, tanpa sarapan pagi, karena jam sarapan
disediakan baru mulai pukul 8 sampai 10 pagi. Setelah makan nasi kuning berpauk
ayam dan minum teh panas, dan cari informasi kemana arah ke utara menuju Tanjung
Selor, ternyata di jalan Durian III. Kemudian kami mmnyeberangi jembatan yang
cukup panjang, mesi tak sepanjng kembatan Mahakam di Samarinda, kami menemui
simpang tiga, lurus ke arah Tanjung Selor dan ke kanan ke arah Tanjung Batu atau
Derawan. Mulanya kami ingin isi bensin dieceran saja, tetapi kami lihat ada
petunjuk pom bensin sekitar 100 meter dari simpang tiga ke arah Tanjungbatu.
Kami putuskan membeli di pom bensin aja.
Lama nunggu pom bensin buka, jam 8.30 baru berhasil lolos
dari antri, perjalanan di lanjutkan ke arah Propvinsi baru Kalimantan Utara
(Kaltara). Menurut sumber dari warga yang antri yaitu sejumlah belasan mobil pick up, bahwa di kota ini terdapat lima
pom bensin Pertamina dan beberapa APMS, tapi semuanya antri baik bensin maupun
solar. Dan pada tengah hari semua sudah kosong. Kami diijinkan mengisi full,
tidak seperti di Tanjung Selor pada saat ulang, kami hanya boleh isi Rp 100 riu
untuk mobil, dan nomor kendaran dicatat. Tidak pula sama dengan ketika kami
melakukan perjalanan ke Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dimana mobil
pribadi diijinkan potong antrian oleh para pengetap, baik sekali hati meraka
dalam hati saya.
Perjalanan dilanjutkan lagi pada tanah yang baru sekali ini
kami lalui, jalan beraspal cukup mulus, sedikit saja lubang atau aspal yang
rusak. Kendaraan cukup sepi, sekitar 5 menit baru ada mobil atau motor yang
lewat. Terdapat dusun-dusun kecil pada jarak sekitar 10 km dan dan juga warung
sembako kecil dan pengecer bensin, harganya Rp 10 ribu perliter. Lebar jalan
sekitar 6 meter, bahu jalan sekitar 1,5 meter dikiri-kanan jalan. Pemandangan
monoton hutan belukar dan ladang. Ada juga beberapa kebun kelapa sawit dan
rumah walet. Terdapat sebuah pintu gerbang berukiran khas Dayak namun tak ada
tulisan sama sekali, kami pikir ini pintu gerbang perbatasan Kaltim-Kaltara.
Setelah sekitar 2,5 jam kami memasuki gerbang kota
Tanjung Selor. Pada jam 12 siang. Ada simpang tiga. Yaitu lurus ke arah kota Tanjung
Selor, ke kiri kearah Malinau atau Tidang Pala, begitu tulisan pada plang hijau
di kiri jalan.
Kami memutuskan ke arah Tanjung Selor dulu untuk cari
informasi jarak ke Sesayap sebagai tujuan akhir sekalian makan siang dikota.
Setelah makan siang di sebuah warung yang kalau didengar
aksennya pasti orang dari Jawa Timur. Beberapa karyawan perusahaan batu bara
yang makan disitu menyapa kami dengan ramah. Ketika kami sampaikan bahwa kami
dari Tenggarong mau menuju ke Tanah Tidung, mereka sedikit terkejut. Itu
jaraknya katanya sama dengan Jakarta-Surabaya atau sekira 900 km. Ternyata mereka
perantau dari Jawa yang bekerja pada salah satu tambang batu bara. Kam dapat
info bahwa jalan ke arah yang kami tuju kurang bagus. Tapi dengan mobil yang
kami bawa diperkirakan sampai di tujuan 5-6 jam dengan jarak lebih dari 150 km.
Setelah selesai makan nasi campur dan rawon serta teh es
membayar Rp 50 ribu, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara.
Kami berhenti sebentar pada sebauh toko kecil untuk
membeli minunam, di sebelah kami berhenti juga sebuah mobil pick up yang platnya dari Samarinda.
Melihat modil kami berplat Kutai Kartanegra, meraka bertanya apakah kami dari
Samarinda, kami jawab kami dari Tengaarong dan mau menuju ke Tanah Tidung.
Mereka bilang dari Samarinda juga dan ingin ke Malinau untuk membeli buah-buah
untuk didagangkan di Samarinda. Ternyata mobil pick up juga bisa sampai ke Malinau.
Memang benar bahwa jalan ke arah Malinau maupun ke arah
Tanah Tidung banyak rusak dengan lubang yang dalam, mobil kami beberapa kali nyangkut
di aspal jalan. Jalan yang lebarnya sekitar 5 meter itu banyak aspal yang sudah
terkelupas. Jalan ini melewati beberapa kecamatan seperti Kecamatan Tanjung
Palas Utara yang masih di wilayah Kab. Bulungan dan Kecamatan Betayau yang
masuk Kab. Tanah Tidung (KTT).
Jam 5 sore atau sekitar 4 jam perjalanan kami sampai pada
simpang tiga jalan lintas Kalimantan, kalau lurus menuju Malinau (kota), dan
belok kanan menuju Sesayap Ilir atau Kab. Tanah Tidung. Jam 6 sore kami sampai
di Sesayap Ilir dan bertemu dengan anak dan cucu. Perjalanan sejauh 265 km dari
Tanjung Redeb ke Sesayap Ilir kami lalui sudah.
Etape I : Tenggarong-Samarinda 34 km, Samarinda –
Sangata170 km
Etape II : Sangata-Muara Wahau 216 km, Muara wahau-Tj
Redeb 213 km
Etape III : Tj Redeb – Tj Selor 111 km, Tj Selor-Sesayap
Ilir 154 km
Total jarak Tenggar0ng-Sesyap Ilir 898 km