Kamis, 02 Juli 2015

Tiga hari dua malam perjalanan darat menuju Tanah Harapan KTT

Kabupaten Tana Tidung (KTT) adalah wilayah pecahan dari Kabupaten Bulungan. Sejak tahun 2012 Kabupaten Bulungan dan Kabupaten Tana Tidung bergabung menjadi Provinsi Kalimanatan Utara. Ide untuk melakukan perjalanan darat ke Kabupten ini muncul karena dari cerita beberapa orang yang telah melakukan perjalanan ke sana bahwa prasarana jalan darat sudah cukup baik. Walaupun belum begitu terinci tetang seluk beluknya seperti jarak antar kota, persediaan penjualan bbm, rumah makan dan penginapannya.
Perjalanan 3 etape
Perjalanan dilakukan di bulan September 2014. Cuaca adalah musim panas dengan hujan yang jarang. Saya ditemani isteri sebagi co driver dengan tujuan Kecamatan Sesayap Ilir Kabupaten Tanah Tidung, keperluan menemui anak dan cucu sekaligus liburan. Kendaraan Honda CR-V metik tahun 2003 warna grey metalik 2000cc dengan kapasitas tangki bensin 55 liter. Perjalanan sebulumnya dengan tujuan sama tahun 2011 dilakukan dengan pesawat terbang dimulai dari Tenggarong ke Balikpapan menyewa mobil Rp 400 ribu selama 4 jam, pesawat Lion Air Balikpapan tujuan Tarakan Rp 350 ribu selama 1 jam, dilanjutkan dengan speed boat ke Sesayap Ilir Rp 100 ribu selama 1 jam 45 menit.
         Perjalanan lewat darat dilakukan bukan untuk berhemat, melainkan untuk menambah wawasan melihat kabupaten dan kota lain di Kaltim dan Kaltara.
ETAPE I
Minggu 21 September 2014, berangkat dari Tenggarong jam 8 pagi, dengan bensin full. 45 menit sudah memasuki kota Samarinda sejauh 34 km. Kota pagi itu cukup padat merayap, melalui pasar dan pertokoan. Sempat bingung cari jalan dimana keluar kotanya menuju ke arah utara. Setelah setengah jam baru temu jalan keluar kota. Tapi dari hasil bertanya kepada beberapa kawan hari sebelumnya, akhirnya sampai juga ke utara kota dan temulah plang petunjuk ke arah Muara Badak, Bontang dan Sangata. Jalan kedaannya cukup baik, walaupun disana-sini terdapat lubang dan sebagian jalan yang longsor. Lebar jalan aspal sekitar 6 meter dengan tanjakan dan turunan serta belokan ke kanan dan ke kiri kadang cukup tajam. Jarak Samarinda Bontang sekitar 110 km. Sampai di Bontang tepat pukul 11.30 siang istirahat dan makan siang. Jam 12 siang melanjutkan perjalanan ke arah Sangata dan tiba pada jam 13.30. Jarak yang ditempuh sudah mencapai 204 km dihitung sejak dari Tenggarong. Kami putuskan untuk istirahat dan mencari penginapan sambil putar-putar dikota Sangata untuk pertama kalinya kami datang ke kota ini. Harga penginaan dari 80 ribu sampai 120 ribu masing-masing untuk yang kipas angin atau ac. Kamar mandi dan WC di dalam dan ada tv kabel. Sore itu kami sempat keliling kota dan mengisi bensin sampai full lagi meski sedikit kesal karena banyaknya pengetap dan mobil pribadi yang main serobot antrian. Biaya makan sama dengan di Tenggarong atau Samarinda pada warung-warung yang begitu banyak diselang seling penginapan dan hotel melati yang juga menjamur, maklum kota para pekerja dan pns. Jalan dalam kota cukup bagus, jembatan juga permanen yang menyeberangi sungai Sangata dan di komplek perkantoran dan komplek perusahaan jalannya, ya ampun lebarnya dan lurusnya. Seperti jalan tol Jagorawi.

ETAPE II
Senin 22 September 2014, pagi jam 6 kami telah siap untuk berangkat setelah sarapan teh hangat dan kue gratis dari penginapan. Rencana makan pagi di luar kota saja sambil nunggu warung buka diarah tujuan ke Muara Wahau dan Tanjung Redeb ibukota Kabuaten Berau. Pada jalan-jalan sore kemarinnya kami telah tahu jalan ke arah tersebut melihat banyaknya petunjuk jalan karena setiap belok ke kiri disepanjang jalan menuju ke Bukit Pelangi, pusat pemerintahan dan perkantoran swasta tersebut kalau tak salah ada tiga belokan ke kiri yang ada petunjuk jalannya berwarna hijau cukup besar arah ke Muara Wahau dan Tanjung Redeb serta sekalian juga ke arah Sangkulirang. Setelah satu jam kami sampai di simpang tiga Muara Wahau dan Sangkulirang. Menurut petunjuk jalan warna hijau yang telah cukup kusam, bila belok kiri ke Muara Wahau, bila ke kanan arah ke Sangkulirang. Ini sebuah kampung yang cukup ramai, saya tak tahu nama kampungnya. Di kiri simpang tiga ada pom bensin dan banyak mobil yang antri tapi belum buka.

Kami belok kiri dan terus tancap gas. Namun makin lama jalan makin rusak dan sempit, seperti jarang dilalui oleh kendaraan. Dan setelah sekira jarak 5 km dari simpang tiga, jalan ditutup sama sekali dengan gundukan tanah uruk setinggi 3 meter. Dengan bingung dan isterisya ketakutan sekali, saya memutar mobil dan tancap gas lagi. Banyak rumah kosong dan beberapa dengan tulisan sebagai rumah makan yang sepertinya tak terawat lagi. Setelah sampai di pertigaan dan bertanya kepada penduduk, dijelaskan bahwa itu jalan tak dipakai lagi karena telah masuk wilayah tambang batu bara dan jalan dibuat yang baru dengan jurusan ke arah Sangkulrang kemudian belok kiri setelah sekitar 150 meter dari pertigaan. Owalah, kenapa plangnya tak di baiki dan itu petunjuk bahwa perusahaan batu bara lebih mendapat atensi dari pemda Kutai Timur dari pada kepentingan masyarakat umum.
Akhirya kami putuskan untuk makan pagi di warung dan kemudian baru melanjutkan perjalanan setelah istirahat sekitar setengah jam dan memang ada plang petunjuk ke arah Muara Wahau. Jalan yang dibangun perusahaan ini lumayan lebar dengan aspal nomor satu dan sangat nyaman dilalui. Tapi setelah sekitar 10 km kembali ke jalan PU yang cukup kecil dengan aspal yang tipis. Di sekitar 50 km sampai mendekati kota Kcematan Muara Wahau, jalan ada yang diseminisasi, ada yang aspal, ada pula yang baru dari batu halus. Ada pula yang baru disemen sebelah, sehingga kendaraan harus bergantian melewatinya. Kemungkinan sekarang jalan ini telah selesai pengerjaan semenisasi atau pun pengaspalannya. Sepanjang jalan banyak mobil penganku kelapa sawit dan minyak sawit serta sepeda motor dan mobil pik up para pedagang. Warung dan rumah makan sederhana juga ada di beberapa kampung kecil sepenjang jalan. Jam 12.30 siang kami sampai di Muawa Wahau.
Makan siang di sebuah rumah makan yang juga membuka penginapan di pertigaan Sangata, Muara Wahau dan Berau. Sambil menunggu hidangan, saya coba cari informasi berapa jam perjalanan mobil ke Tanjung Redeb dan bagaimana kondisi jalannya. Tapi rupanya pemilik rumah makan kurang bersahabat dan menjawab agak kurang ramah bahwa perjalanan ke Tj Redeb memakan waktu 10 jam. Selesai makam kami membayar Rp 50 ribu untuk dua porsi nasi campur ditambah dua gelas teh hangat. Ketika akan berangkat dimana kami putuskan akan mengnap di kota kecamatan, tba-tiba sanganak pemilik rumah makan bertanya kami akan kemana. Kami jawab kan ke utara yaitu Tanah Tidung. Katanya dari sini ke Tj Redeb memerlukan waktu sekitar 5-6 jam saja dan keadaan jalan sudah sangat memadai menurut ukuran warga disini. Dia melihat mobil kami, dan mengatakan bahwa kalau mobil kami tak menemui kesulitan kalau menuju Berau. Karena dia baru saja melakukan perjalanan pp Wahau-Berau beberapa bulan yang lalu. Akhirnya dari informasi ini kami putuskan meneruskan perjalanan.
Kedaan jalan mulanya aspal mulus dengan lebar sekitar 6 meter, dengan lalu lontas yang lengang. Disini kami memlaui kecamatan Gunung Kombeng, kecamatan terakhir di Kab. Berau. Hanya seskali berpapasan dengan sepeda motor dan truk pengangkut kelapa sawit dan minak sawit. Setelah satu jam perjalanan, jalan mulai agak rusak, kemudian jalan hanya berbatu agak kasar. Debu juga sangat tebal kalau berpapasan dengan kendaraan lain. Setelah itu jalan terdiri dari beton semen dan putus-putus sehingga kalau berpapasan dengan truk harus antri. Kemudian yang dilalui tinggal hanya jalanan berbatu dengan hutan yang sangat lebat. Pada jam sekitar 15 siang kami sampai pada jalan yang sudah diaspal mulus tetapi topografinya turun naik dan berbelok-belok sangat tajam. Hutannya sangat lebat sehingga isteri saya sangat ngeri membayangkan kalau terjadi apa-apa, misalnya mobil mogok, sehingga ia berdoa sepanjang jalan.
Tidak ada plang tanda batas kabupaten, kami memasuki Kecamatan Kelay, kabupaten Berau. Dua jam kemudian petunjuk bensin kami sisa sekitar 10 liter. Kami berhenti sebentar menanyakan berapa jarak lagi sampai ke kota Tanjung Redeb. Info dari warga bahwa 40 km lagi sudah sampai di Tanjung Redeb. Kami membeli bensin eceran 10 liter seharga Rp 110 ribu. Akhirnya kami sampai di ibukata Kabupaten Berau ini pada pukul 18 sore setelah menempuh jarak Muara Wahau-Tj Redeb 213 km.
ETAPE III
Selasa 23 Sept 2014 pagi jam 6 kami telah cek out dari hotel setelah membayar Rp 220 ribu, tanpa sarapan pagi, karena jam sarapan disediakan baru mulai pukul 8 sampai 10 pagi. Setelah makan nasi kuning berpauk ayam dan minum teh panas, dan cari informasi kemana arah ke utara menuju Tanjung Selor, ternyata di jalan Durian III. Kemudian kami mmnyeberangi jembatan yang cukup panjang, mesi tak sepanjng kembatan Mahakam di Samarinda, kami menemui simpang tiga, lurus ke arah Tanjung Selor dan ke kanan ke arah Tanjung Batu atau Derawan. Mulanya kami ingin isi bensin dieceran saja, tetapi kami lihat ada petunjuk pom bensin sekitar 100 meter dari simpang tiga ke arah Tanjungbatu. Kami putuskan membeli di pom bensin aja.

Lama nunggu pom bensin buka, jam 8.30 baru berhasil lolos dari antri, perjalanan di lanjutkan ke arah Propvinsi baru Kalimantan Utara (Kaltara). Menurut sumber dari warga yang antri yaitu sejumlah belasan mobil pick up, bahwa di kota ini terdapat lima pom bensin Pertamina dan beberapa APMS, tapi semuanya antri baik bensin maupun solar. Dan pada tengah hari semua sudah kosong. Kami diijinkan mengisi full, tidak seperti di Tanjung Selor pada saat ulang, kami hanya boleh isi Rp 100 riu untuk mobil, dan nomor kendaran dicatat. Tidak pula sama dengan ketika kami melakukan perjalanan ke Sendawar, ibukota Kabupaten Kutai Barat, dimana mobil pribadi diijinkan potong antrian oleh para pengetap, baik sekali hati meraka dalam hati saya.
Perjalanan dilanjutkan lagi pada tanah yang baru sekali ini kami lalui, jalan beraspal cukup mulus, sedikit saja lubang atau aspal yang rusak. Kendaraan cukup sepi, sekitar 5 menit baru ada mobil atau motor yang lewat. Terdapat dusun-dusun kecil pada jarak sekitar 10 km dan dan juga warung sembako kecil dan pengecer bensin, harganya Rp 10 ribu perliter. Lebar jalan sekitar 6 meter, bahu jalan sekitar 1,5 meter dikiri-kanan jalan. Pemandangan monoton hutan belukar dan ladang. Ada juga beberapa kebun kelapa sawit dan rumah walet. Terdapat sebuah pintu gerbang berukiran khas Dayak namun tak ada tulisan sama sekali, kami pikir ini pintu gerbang perbatasan Kaltim-Kaltara.
Setelah sekitar 2,5 jam kami memasuki gerbang kota Tanjung Selor. Pada jam 12 siang. Ada simpang tiga. Yaitu lurus ke arah kota Tanjung Selor, ke kiri kearah Malinau atau Tidang Pala, begitu tulisan pada plang hijau di kiri jalan.
Kami memutuskan ke arah Tanjung Selor dulu untuk cari informasi jarak ke Sesayap sebagai tujuan akhir sekalian makan siang dikota.
Setelah makan siang di sebuah warung yang kalau didengar aksennya pasti orang dari Jawa Timur. Beberapa karyawan perusahaan batu bara yang makan disitu menyapa kami dengan ramah. Ketika kami sampaikan bahwa kami dari Tenggarong mau menuju ke Tanah Tidung, mereka sedikit terkejut. Itu jaraknya katanya sama dengan Jakarta-Surabaya atau sekira 900 km. Ternyata mereka perantau dari Jawa yang bekerja pada salah satu tambang batu bara. Kam dapat info bahwa jalan ke arah yang kami tuju kurang bagus. Tapi dengan mobil yang kami bawa diperkirakan sampai di tujuan 5-6 jam dengan jarak lebih dari 150 km.
Setelah selesai makan nasi campur dan rawon serta teh es membayar Rp 50 ribu, kami melanjutkan perjalanan ke arah utara.
Kami berhenti sebentar pada sebauh toko kecil untuk membeli minunam, di sebelah kami berhenti juga sebuah mobil pick up yang platnya dari Samarinda. Melihat modil kami berplat Kutai Kartanegra, meraka bertanya apakah kami dari Samarinda, kami jawab kami dari Tengaarong dan mau menuju ke Tanah Tidung. Mereka bilang dari Samarinda juga dan ingin ke Malinau untuk membeli buah-buah untuk didagangkan di Samarinda. Ternyata mobil pick up juga bisa sampai ke Malinau.
Memang benar bahwa jalan ke arah Malinau maupun ke arah Tanah Tidung banyak rusak dengan lubang yang dalam, mobil kami beberapa kali nyangkut di aspal jalan. Jalan yang lebarnya sekitar 5 meter itu banyak aspal yang sudah terkelupas. Jalan ini melewati beberapa kecamatan seperti Kecamatan Tanjung Palas Utara yang masih di wilayah Kab. Bulungan dan Kecamatan Betayau yang masuk Kab. Tanah Tidung (KTT).
Jam 5 sore atau sekitar 4 jam perjalanan kami sampai pada simpang tiga jalan lintas Kalimantan, kalau lurus menuju Malinau (kota), dan belok kanan menuju Sesayap Ilir atau Kab. Tanah Tidung. Jam 6 sore kami sampai di Sesayap Ilir dan bertemu dengan anak dan cucu. Perjalanan sejauh 265 km dari Tanjung Redeb ke Sesayap Ilir kami lalui sudah.
Etape I : Tenggarong-Samarinda 34 km, Samarinda – Sangata170 km
Etape II : Sangata-Muara Wahau 216 km, Muara wahau-Tj Redeb 213 km
Etape III : Tj Redeb – Tj Selor 111 km, Tj Selor-Sesayap Ilir 154 km

Total jarak Tenggar0ng-Sesyap Ilir 898 km

Tidak ada komentar:

Posting Komentar